TANTANGAN

sumber gambar: https://mediaindonesia.com/read/detail/89269-jangan-ada-lagi-kekerasan-di-kampus

Semakin hari kita disuguhkan pemberitaan di semua media mainstream dan marginal mengenai kekerasan. Puncaknya kita terhenyak pada kasus pembunuhan seorang bocah yang baru berusia sekitar lima tahun yang dilakukan oleh remaja berusia lima belas tahun. Lebih mengenaskan ketika pelaku ditanya ia selalu menjawab “saya puas”.

Sebagai orang yang beragama sudah pasti kita meyakini setiap kejadian merupakan sunatullah atau ketetapan dari Allah SWT. Namun, lagi-lagi manusia dengan potensi “kehendak” dapat memilih apa yang dilakukannya. Pilihan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba atau sim salabim, tetapi melalui proses berpikir yang dipengaruhi sistem kerja otak.

Dalam penelitian modern mengenai otak manusia ditemukan sesuatu yang akan mengubah “kehendak” tadi menjadi pilihan yang positif dan bermanfaat bagi manusia yang lain. Dalam hal ini, revolusi mental yang dikampanyekan Presiden Jokowi direspon oleh pakar pendidikan ibu Conny Semiawan dengan strategi pengembangan otak sebagai revolusi biologi.

Selama ini kita selalu bertanya-tanya mengapa banyak orang yang korupsi, berperilaku menyimpang dan perbuatan buruk lainnya. Padahal, kebanyakan dari mereka itu cerdas-cerdas bahkan penganut agama yang taat. Siapa dan apa yang salah dengan pendidikan kita? Jawabnya sementara ini adalah tidak terjadinya eureka effect. Yaitu sebuah kondisi memahami yang sebelumnya tidak dipahami. Saat kita mengerti tentang sesuatu yang tadinya kita tidak mengerti maka spontan kita akan berkata “O…gitu ya”, itulah eureka effect atau dalam istilah Prof. Conny “ AHA”.

Bagaimana supaya kita mudah atau cepat sampai pada kondisi “AHA”? ya, tepat sekali kita mesti kembali kepada revolusi biologi tadi. Khususnya masalah sistem kerja otak, hubungan antar sel neuron hingga jumlah syaraf yang tumbuh karena stimulus yang tepat. Tips mudah agar sistem kerja otak menjadi optimal salah satunya dengan kreativitas. Lebih banyak memanfaatkan belahan otak kanan atau seimbang antara kanan dan kiri. Disebutkan lebih banyak yang kanan karena selama ini masih dominan yang kiri.

Praktiknya sudah berjalan di sekolah laboratorium yang berada dalam lembaga pendidikan tenaga kependidikan negeri di Jakarta. Namun, belum ada ukuran yang dapat memastikan apakah strategi tersebut berhasil atau mungkin hanya berjalan di tempat. Maaf pak Menteri Kominfo RI Johnny G. Plate, saya sedikit berbeda dengan pernyataan bapak dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) edisi 10 Maret 2020. Menurut saya tantangan pendidikan formal, non formal dan informal lebih ditekankan pada kompetensi sumber daya manusia yang sekarang ribut terus masalah sertifikasi. Saya sepakat dengan jargon SDM Unggul, Indonesia Maju. (AS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *