SEKOLAH PANDEMI

Kegiatan kesiswaan dalam rangka membangun karakter kedisiplinan dan kepedulian

Terhitung semenjak pekan kedua pada bulan Maret, seluruh aktivitas pembelajaran dan sebagian perkantoran dipindahkan ke rumah masing-masing. Tempat-tempat wisata, rumah ibadah, pasar, rumah makan ditutup. Kegiatan yang mengumpulkan orang banyak dibubarkan dan bila sudah terjadwal dibatalkan atau ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan. Meskipun demikian semakin hari kasus positif Covid-19 makin bertambah banyak. Para kepala daerah berlomba-lomba meminta izin pemerintah pusat untuk memberlakukan treathment dengan diterbitkannya peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Akibatnya banyak perusahaan gulung tikar, gelombang PHK besar-besaran, perekonomian lesu, daya beli masyarakat turun. Meski yang terakhir banyak yang mempertanyakan, saat menjelang Hari Raya atau pasar di buka jumlah pengunjungnya membludak dan tidak memerhatikan protokal kesehatan.

Lebih dari dua bulan belajar dan bekerja dari rumah tentu membuat jenuh dan permasalahan lainnya muncul secara personal. Mulai dari tagihan listrik yang melonjak, mata tambah minus, hobinya berganti rebahan atau males gerak (mager) dan banyak lagi. Khususnya dalam pendidikan, peserta didik menjadi korban paling dilematis. Hal tersebut tidak menutup kemungkinan para pendidiknya juga mengalami hal yang sama. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) membutuhkan biaya personal yang melonjak sedikitnya 200 % untuk kuota internet. Belum lagi dengan kondisi tempat tinggal masing-masing, perannya dalam keluarga dan sederet kenyataan yang tidak nampak ketika pembelajaran normal.

Orangtua yang khawatir terhadap keselamatan anaknya memang wajar sehingga pembelajaran tetap dari rumah, melihat negara lain setelah belajar kembali ke sekolah ternyata mengalami kenaikan kasus positif Covid-19. Belakangan salah satu orprof keguruan melakukan riset daring mengenai pembelajaran kenormalan baru: peluang, tantangan dan strateginya. Semoga riset tersebut bisa mewakili seluruh elemen masyarakat bukan hanya yang punya duit saja, atau yang rumahnya besar didalamnya tersedia apa yang mereka butuhkan. Karena bagaimana pun perpanjangan PJJ semakin melebarkan jurang si Kaya dan si Miskin di dunia pendidikan. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan lembaga pendidikan tetaplah dibutuhkan utamanya secara instruksional terutama untuk usia dini hingga menengah. Karena di pendidikan tinggi mereka umumnya sudah di tingkatan Chief Executive Officer (CEO) menyadari kenikmatan belajar.

New Normal yang sekarang hits ini sebenarnya sudah menjadi kebiasaan kita sehari-hari, bukankah setiap hari saat bangun dari tidur sampai kembali lagi ke tempat tidur melakukan kenornalan baru. Mengapa kita gagap terhadap aktivitas yang sudah sering kita lakukan, apakah karena istilahnya yang belum populer saat kita mengerjakan ataukah memang virus pesimis telah lama hinggap dalam diri kita. Filosofi Jepang yang terkenal dengan sebutan kaizen mesti menjadi one day yang merangsang endorphine sehingga kita sangat bahagia menjalani hari-hari di masa pandemi. Dua hal yang meningkat pesat akibat pandemi Covid-19 yaitu kedisplinan dan kepedulian terutama kepada diri sendiri.

Rumah ibadah, perkantoran, transportasi umum sudah mulai beroperasi kembali dengan memerhatikan protokol kesehatan. Mengapa lembaga pendidikan juga tidak mengikutinya, bukankah ini momentum untuk “menertibkan” oknum-oknum elemen masyarakat yang masih bandel terkait regulasi dan kebijakan pemerintah ataukah memang kita semua tidak pernah serius mengurusi masalah pendidikan. Tidak jarang diskusi-diskusi virtual yang brosurnya berseliweran di media sosial dihadiri pula oleh anggota dewan yang terhormat, praktisi pendidikan yang jempolan namun selalu diakhiri dengan urusan mulut dan perut. Semuanya terhenti di dunia maya, kenyataannya lagi-lagi peserta didik yang menjadi korban laten.

Berbeda ketika lembaga pendidikan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat, peserta didik dikurangi tiap kelasnya dengan shift pagi sore masing-masing empat jam tanpa istirahat kemudian berikan tugas daring. Optimalkan blended learning dan merdeka belajar sehingga peserta didik betul-betul mengalami belajar. Pendidik yang masuk pun dibuatkan jadwalnya yang hadir hanya yang mendapatkan tugas mengajar atau piket administrasi. Masih banyak lagi syarat dan ketentuan harus dipenuhi oleh penyelenggara pendidikan, orangtua pun silakan berkontribusi. Jangan mau berdamai dengan Covid-19 via daring meski eranya digital, percayalah kita mampu melawannya dengan kedisiplinan dan kepedulian. (AS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *